Batu Akik: Permata Ekonomi Pacitan

November 10th, 20131:34 pm @

0


Batu Akik: Permata Ekonomi Pacitan

Di balik perbukitan kapur kars Pegunungan Sewu di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, tersimpan aneka batuan alam yang cantik memesona. Dengan keterampilan dan semangat wirausaha, batuan alam diolah menjadi sebuah kerajinan akik yang bernilai tinggi sehingga menggulirkan ekonomi. Kini, akik menjadi sandaran hidup bagi ribuan penduduk.

Hari masih pagi ketika pasar batu akik di komples wisata Goa Gong Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, dibuka. Hanya dalam hitungan menit, lapak-lapak yang tadinya kosong dan berantakan, berubah menjadi rapi.

Lapak-lapak itupun kemudian dipenuhi dengan aneka kerajinan batu alam yang berwarna-warni dan cantik memesona.  Ada yang jenis abut permata, tetapi paling banyak batu akik, yakni sejenis batu mulia yang fisik dan warnanya cukup bagus.

Di kalangan masyarakat tertentu seperti di Jawa, batu akik menjadi salah satu identitas bagi pemakainya. Selain itu, keberadaan batu akik kerap dikaitkan dengan sebuah kegaiban atau tuah tertentu yang dipercaya bakal memberikan manfaat bagi pemakai atau pemiliknya.

Batu akik sejatinya hanya salah satu bentuk kerajinan batu alam yang disandingkan dengan perhiasan. Selain digunakan untuk akik, batu alam Pacitan juga diubah menjadi liontin, cincin, gelang, bros hingga hiasan meja.

“Kami juga menyediakan batu alam murni. Ini bisa menjadi pilihan pengunjung yang memiliki perhiasan, tetapi ingin menambah batu alam sebagai permatanya,” ujar Gitu (45), pedagang batu akik baru-baru ini.

Menjelang siang hari, aktivitas pasar makin bergeliat. Sejumlah pengunjung tampak berdatangan menghampiri lapak-lapak pedagang. Awalnya, mereka hanya melihat-lihat, tetapi sejurus kemudian banyak yang mulai memperhatikan detail batu.

Para pedagang dengan ramah kemudian melayaninya. Mereka juga menwarkan harga dengan banyak varian untuk menjaring pengunjung sesuai kelas ekonominya. Mulai dari harga Rp 50.000 hingga Rp 300.000 per buah. Suara tawar menawar pun renyah terdengan di antara kerumunan pengunjung. Sesaat kemudian terjadi transaksi. Setelah bertransaksi biasanya ditutup dengan senyuman pembeli dan tawa riang pedagang. Artinya, mereka memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk keluarganya.

Berbicara tentang batu akik, Kabupaten Pacitan merupakan salah satu sentra. Daerah di ujung barat Provinsi Jatim ini menjadi kota tujuan bagi pemburu abut akik di Nusantara hingga mancanegara seperti Eropa.

Pasar batu akik di Goa Gong merupaka etalase yang memamerkan produk hasil karya para perajin. Pasar ini juga jadi gerai yang memanggungkan beragam potensi kekayaan batu alam Pacitan yang terpendam di kawasan kars Pegunungan Sewu.

Ketua Pedagang Akik Pacitan Sokirin mengatakan, pasar akik menampung 32 pedagang. Sebagian mereka adalah pedagang murni, tetapi sebagian lagi merupakan perajin yang melebarkan sayapnya menjadi pedagang. Setiap pedagang rata-rata menjajakan sekitar 10-15 jenis produk berbahan batu alam, seperti cincin, liontin, gelang, kalung dan bros. Batu alam tertentu seperti batu gambar biasanya dijual tersendiri karena harganya menembus jutaan rupiah.

“Saat akhir pekan atau musim liburan, transaksi pembelian bisa menembus Rp 2 juta per hari. Rata-rata, setiap bulan para pedagang meraup omzet Rp 10 juta hingga Rp 20 juta,” katanya.

Tercatat, total transaksi di pasar akik setiap bulannya mencapai Rp 640 juta dengan margin sekitar 20 persen. Itu, minimal. Sebab, selain mengandalkan penjualan dari pasar, para pedagang juga memasarkan akik melalui jaringan bisnis mereka yang tersebar di sejumlah kota, seperti Bali, Surabaya, Jakarta, hingga luar negeri.

Dengan margin sebebsar itu, pedagang mendapat penghasilan lumayan yang mampu menghidupi keluarga, dan pendidikan anak-anak mereka. Warga pun tak perlu mencari pekerjaan di kota atau menjadi buruh migran di negeri Jiran hanya demi sesuap nasi.

Rantai Produksi

Dampak ekonomi kerajinan batu akik tampak semakin menguat saat kita berkunjung di pusat industrinya yang tersebar di Kecamatan Punung dan Donorojo. Di sanalah, rantai produksi batu akik terbentang dari proses pengumpulan bahan yakni pencarian batu alam, pengolahan hingga pengerjaan akhir.

Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pacitan menyebutkan, kerajinan batu akik ditekuni oleh 96 unit usaha dan memberikan lapangan pekerjaan bagi 25 orang pekerja yang terlibat langsung. Hampir semua unit yang mengerjakannya berskala usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Salah satu perajin, Dhomin Raharjo, mengatakan, per hari setiap UMKM mampu memproduksi 100-160 biji batu akik. Untuk perhiasannya seperti tempat liontin atau kalung, mereka bekerja sama dengan perajin perak dan emas dari Jepara, Jawa Tengah.

Untuk mendapatkan bahan baku batu alam, perajin membeli dari para pencari. Mereka adalah penduduk lokal yang tiap hari berburu batu alam dengan menggali atau menggempur tebing-tebing di Pegunungan Sewu.

Kars Pegunungan Sewu ini memang menyimpan aneka batu alam. Ada kalsedon, batu gambar, batu king laden, agats drusi dan rambut cendana. Paling mahal adalah batu gambar. Sebab, di dalam batu sudah ada gambar tertentu yang dihasilkan dari proses alami batuan, yang tak bisa dibuat sesuai kemauan manusia.

Penggerak ekonomi

Kepala BIdang Perindstrian Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pacitan Mohammad Affandi mengatakan, UMKM merupakan sektor penggerak ekonomi lokal setelah pertanian di lahan tadah hujan.

“Oleh karea itu, pemerintah daerah mendorong pertumbuhan UMKM untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan. Dukungan diberikan dalam bentuk bantuan permodalan, perluasan akses pasar, dan bimbingan,” katanya.

UMKM kerajinan batu akik di Pacitan, kini mampu memproduksi 1,107 juta produk per bulan dengan nilai jual sekitar Rp 8,3 miliar. JUmlah industrinya berjumlah 96 unit usaha dengan mendatangkan nilai investasi sebesar Rp 1,8 miliar ke daerah pedesaan, terpencil dan berlokasi di perbukitan kapur.

Affandi menambahkan, UMKM merupakan pilar ekonomi yang kuat, sebab mampu bertahan di tengah hantaman krisis ekonomi. Selain itu, usaha ini memerlukan investasi kecil. Meskipun demikian, mampu menyerap banyak tenaga kerja dan menghasilkan omzet besar.

Kelebihan lainnya, industri kerajinan tidak berdiri sendiri melainkan mampu bersanding dengan indsutri pariwisata. Seperti pasar akik yang menopang pariwisata Goa Gong dan menjadikannya lebih hidup. Dengan demikian, pengunjung tak perlu repot mencari buah tangan.

Berpijak pada fakta itulah, tak berlebihan jika industri kerajinan batu akik ini disebut “permata” ekonomi bagi warganya. Prospeknya semakin baik, terutama setelah jalan lintas selatan Jawa selesai dibangun.

 RUNIK SRI ASTUTI (Kompas, November 2013)